Tak akan Gentar Tak akan Goyah

Ibu guru berkata “Anak-anak… coba kerjakan latihan ini!”. Perkataan itu selalu teringat dalam pikiranku dan membuatku selalu ingin menirunya sampai aku berkata “suatu saat nanti aku ingin seperti dia”. Aku juga tidak mengerti mengapa sangat suka melihat orang mengajar dan dirumah aku sering mempraktekkannya. Singkat cerita ketika liburan kuliah selama 3 bulan aku memutuskan untuk mencari tempat dimana aku bisa mengajar dan aku merasa sudah siap untuk menjalankannya. Sampai akhirnya mimpiku untuk menjadi seorang pengajar terwujud, aku diterima mengajar di sebuah gereja. Disana ada suatu organisasi yang menyediakan sarana dan prasarana untuk anak-anak belajar khususnya bagi kalangan menengah ke bawah. Kebetulan organisasi tersebut membutuhkan beberapa mentor untuk mengajar dan menjadi gembala anak. Hal yang tidak disangka bahwa Tuhan buka jalan untuk keinginan yang sudah lama aku idamkan. Aku mengajar anak umur 3-5 tahun. Meskipun berat dalam mengatur waktu, ketika pagi aku harus kuliah dan siang aku mengajar. Aku sadar bahwa aku tidak hanya ingin untuk mengajar tapi aku mempunyai kerinduan untuk memberkati anak-anak. Aku bersyukur anak-anak ini telah menjadi bagian dalam hidupku. Ketika aku tidak datang, keesokan harinya mereka bertanya “Kenapa kemarin kakak tidak datang? Kuliah ya?”. Sempat merasa bersalah, tapi apa boleh buat kuliah adalah prioritasku. Tapi aku merasa sangat senang dengan pertanyaan itu karena merekapun menerima kehadiranku dengan sangat baik. Perkataan mereka, raut wajah mereka, senyum dan keluguan mereka membuatku semangat untuk menjalaninya dengan penuh sukacita. Semakin hari ditempatku mengajar karakterku dibentuk tidak hanya untuk menjadi seorang pengajar yang baik tapi bagaimana hidup kita bisa jadi teladan buat mereka. Sampai saat ini aku masih menjalankannya. Benar-benar rasa syukur yang berlimpah kepada Tuhan berkat hikmatNya, kuasaNya yang bekerja atasku, kebaikanNya dan segala hal yang baik telah Dia izinkan untuk aku rasakan dan nikmati. Dengan aku ada di dunia ini aku percaya bahwa Tuhan punya rencana besar yang akan Dia perbuat dalam hidupku. Nama Meirianie diambil dari kelahiran 7 Mei 1991, aku anak pertama dari 3 bersaudara. Aku tinggal bersama ibuku dan kedua adikku. Sejak SD sampai SMA aku mendapat sekolah negeri, padahal aku ingin sekali untuk sekolah di swasta tapi ayah tidak mengizinkannya. Aku mempunyai 2 adik kembar laki-laki dan perempuan, umur aku dan adikku hanya berjarak 3 tahun lebih muda. Perjuangan aku, adikku dan ibuku banyak menguras air mata. Ketika aku kelas 5 SD pengalaman pahit yang tidak pernah aku bayangkan dan hal yang paling tidak aku inginkan terjadi. Saat itu emosi orang tua kami memuncak, mereka bertengkar mulut karena ibuku merasa ayah tidak adil diantara kami dan istri keduanya. Ayah lebih mementingkan istri keduanya dibandingkan kami, sampai-sampai ibuku berniat untuk bunuh diri didepan kami. Sampai akhirnya ibuku bertahan dalam pernikahan hanya ±12 tahun. Selang beberapa hari kejadian itu, ibuku memutuskan untuk bercerai. Dengan emosi yang meluap-luap, ia memberanikan diri datang ke Pengadilan Agama untuk memproses perceraiannya sendirian. Sidang pertama, kedua dan ketiga ayah tidak menghadirinya sama sekali. Justru dengan ketidakhadiran ayah mempercepat proses perceraian tersebut. Sungguh hal yang tidak disangka, dimasa kecilku dengan kejadian ini sangat berat untuk dihadapi. Ketika itu berlangsung setiap hari disekolah maupun dirumah aku hanya bisa menangis dan terus menangis. aku tidak bisa menahan semua kepedihan ini di usia yang sangat muda. Aku bertanya “kenapa semua ini terjadi padaku? Aku ini masih muda, aku ingin menikmati keluarga yang bahagia” sambil menangis. Hari berganti hari, masa-masa yang berat telah berlalu sempat benci, marah, kesal dan tidak mau terima perlakuan dari ayah. Tapi karena Tuhan memperhatikan aku dan Dia sayang kepadaku, Dia mengirimkan orang-orang untuk menguatkan dan membangkitkan aku beserta keluargaku dari kesedihan ini sehingga kami bisa melepaskan pengampunan kepada ayah. Kami sadar bahwa benci dan marah kepada ayah akan membuat kami menjadi semakin terpuruk. Setiap minggu aku dan adikku sering mengunjungi ayah dirumahnya dan ayah merasa sangat senang ketika kami datang. Aku sangat-sangat berterima kasih kepada Tuhan, aku ditempatkan dikeluarga yang seperti ini karena aku dan keluargaku dibentuk untuk menjadi orang yang kuat dalam mengahadapi sesuatu. Dan kita tahu sekarang bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Tuhan memberkati..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: